Kau menangis bersama rintikan gerimis kecil
Mengelus dada, nada, dan seribu tinta
Air hujan selalu setia menemani asa
Bak aksara tanpa warna....
Kau menangis di pojok gedung tua
Dan bersandar di bahu rentannya
Membawa kedamaian di peraduan rasa
Tinta putih, lilin merah jadi saksi palsu gerimis kecil
Jalan setapak merenung akan kehadirannya, dan
Rasa bungkam seribu makna
Semua terlambat . . . . . . . . . . .
Semua selesai. . . . . . . . dan . . . . .
Berakhir dengan harapan mulia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar