Senin, 11 April 2011

Kurang Budaya Membaca

Budaya membaca masyarakat indonesia memang masih cukup memprihatinkan. Padahal, salah satu kunci kemajuan sebuah bangsa terletak pada tumbuh suburnya budaya membaca dikalangan masyarakatnya. Pada  negara-negara yang telah maju, budaya membaca telah tertanam dengan kokoh. Orang membaca dapat dengan mudah ditemukan di bandara, stasiun, terminal maupun tempat-tempat umum lainnya. Sementara di indonesia, fenomena semacam ini nampaknya masih terlalu idealis dan elitis. Persoalan rendahnya minat baca masyarakat indonesiamemang telah menjadi perbincangan dan keprihatinan sejak lama. Dengan kondisi minat baca yang rendah, nampaknya terlalu berat bagi bangsa indonesia untul berkompetisi dengan bangsa lain. Kompetisi global membutuhkan kualitas SDM yang kompatibel. Dan SDM semacam ini hanya akan tercipta dalam masyarakat yang memiliki tradisi membaca yang kokoh.
Berkaitan dengan kondisi semacam ini, berbagai usaha untuk memnumbuhkan minat baca pun di lakukan. Mulai dari menyediakan anggaran buku murah, kampanye lewat berbagai media hingga seminar ataupun pelatihan. Namun fakta menunjukkan bahwa sampai saat ini belum banyak perubahan signifikan dalam hal minat baca. Kondisinya masih cukup jauh dari harapan. Rasanya masih terlalu jauh untuk  mengkomparasikan minat baca masyarakat Indonesia dengan masyarakat negara lain. Akar penyebab rendahnya minat baca memang cukup kompleks. Ada beragam faktor yang saling berkaitan yang sulit untuk di urai satu per satu. Mulai dari mahalnya harga buku, derasnya arus globalisasi hingga tidak ditumbuhkannya minat dan kesadaran akan makna penting membaca dalam dunia pendidikan dan dalam keluarga. Semuanya saling berkaitan dan menjadi faktor penghambat rendahnya minat baca di masyarakat.
Berkaitan dengan usaha meningkatkan minat baca, maka akar solusinya bisa di lacak dari komunitas  yang paling dasar, yaitu keluarga. Oleh karena itu, hal esensial yang menjadi dasar bagi tumbuhnya minat baca berasal dari lingkungan keluarga dan pendidikan. Pada kedua lingkungan inilah seharusnya ditanamkan kesadaran dan minat membaca. Disini, anak-anak di bangun spiritnya mengenai arti dan makna penting membaca dalam kehidupan. Membaca bukan sebuah kegiatan yang sia-sia tanpa manfaat, tetapi mengundang manfaat luar biasa. Secara lebih khusus dapat dikatakan bahwa membaca merupakan sebuah usaha “pemberdayaan diri”. Dengan membaca, orang akan mampu mewujudkan segenap idealitas hidupnya. Mungkin pendidikan formal  seseorang tidak terlalu tinggi, tetapi bisa jadi dia akan memiliki wawasan, pengetahuan, dan kemampuan yang melebihi mereka yang menempuh pendidikan formal tertinggi sekalipun. Hal ini sangat mungkin terjadi bila seseorang memiliki tradisi membaca yang kuat.
Bagi pembaca sejati, bacaan akan menjadi referensi terhadap pemikiran dan prilakunya sehari-hari. Bacaan juga dapat menjadi inspirasi untuk menjadi orang sukses. Jika membaca telah menjadi bagian dari keseharian dan kesadaran anak-anak, ke depan mereka akan mampu mengkonstruksi idealitas masa depannya. Lebih dari itu, membaca juga bermakna peningkatan kualitas dan kapasitas diri. Membaca dapat mengantarkan seseorang menjadi pribadi yang besar dan luar biasa. Tradisi membaca yang baik akan mampu mengantarkan seseorang denga khazanah pengetahuan yang melampaui perolehannya di pendidikan formal sekalipun.[]

Sudah Terlambat

Kau menangis bersama rintikan gerimis kecil
Mengelus dada, nada, dan seribu tinta
Air hujan selalu setia menemani asa
Bak aksara tanpa warna....
Kau menangis di pojok gedung tua
Dan bersandar di bahu rentannya
Membawa kedamaian di peraduan rasa
Tinta putih, lilin merah jadi saksi palsu gerimis kecil
Jalan setapak merenung akan kehadirannya, dan
Rasa bungkam seribu makna
Semua terlambat . . . . . . . . . . .
Semua selesai. . . . . . . . dan . . . . .
Berakhir dengan harapan mulia.
  

Jumat, 08 April 2011

Selamat Tinggal


Harapanku padamu
Seakan menuai ujung penghabisan
Ada apa sebenarnya....?
Tiba-tiba aku sukar menunjukkan rinduku
Tiba-tiba aku ingin berhenti mencintai dan menyayangimu
Mungkinkah karena sikapmu
Yang tak lagi menmbungkamkanku dan
Perlahan menghilang di balik dusta
Pesonamu yang pudar oleh sikap tak pasti
Egoismu melelahkanku
Bisumu menghentikan langkahku, dan
Aku lebih baik pergi dari hidupmu.

Perasaan Seorang Kekasih

Kau tak pernah mengerti akan hadirku disisimu
Kau ciptakan kebahagiaan, keceriaan dalam gulatan hari-hariku
Semua terasa indah bak warna pelangi di kala hujan
Harapan dan kepercayaan aku bangun dengan setitik kasih dan sayang
Namun  semuanya telah kau rubah bangunan itu
Bagaikan abu yang di terpa angin.
Tapi, bangunan sayangku terlalu kokoh padamu
Dan kerapuhanku kau manfaatkan
Untuk bangunan kebohonganmu.
Seiring berubahnya cakwala cinta dan mega merah
Aku mengerti hakekat kasih dan sayang
Bahwa kaishku tak berarti apa-apa
Dan kau tak jauh lebih dari pada ulat bulu
Yang setiap saat melukai dan menyakiti perasaanku.

Kamis, 07 April 2011

Mengapa Belajar Filsafat...?




Seorang penyair Persia pernah membandingkan alam raya dengan sebuah buku kuno, yang kehilangan halaman-halaman dan halaman-halaman terakhirnya. Sepanjang sejarah, bangsa manusia sedang mencari halaman-halaman yang hilang itu. Setiap kali kalau ilmu pengetahuan menemukan beberapa halaman yang hilang itu, pengetahuan kita tentang alam raya menjadi sedikit lebih luas. Karena semua penemuan ilmu pengetahuan itu, perntayaan-perntayaan yang terakhir, yaitu pertanyaan-pertanyaan tentang asal dan tujuan, tentang makna hidup, tentang kita sendiri, masih belum terjawab.
Banyak orang sudah mencoba untuk mengisi “halaman-halaman yang hilang ini”. Macam-macam teori dikemukakan. Macam-macam pendapat diajukan sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang melewati batas-batas kemungkinan-kemungkinan pengetahuan kita. Filsafat menyelidiki pendapat-pendapat ini. Filsafat merupakan suatu forum, suatu lapangan diskusi yang sama sekali bebas. Usaha filsafat yaitu: “mencari hikmah di tengah semua pengetahuan”, kelihatannya sesuatu yang kurang bermakna. Karena setelah sekian banyak abad sejarah filsafat hampir tidak ada hasil konkret.
Filsafat, yang tidak memperlihatkan kemajuan, lebiih mirip dengan seni dari pada dengan ilmu pengetahuan. Semua filsuf memberikan jawaban-jawaban yang bersifat pribadi. Tema-tema yang dipilih sudah merupakan suatu seleksi yang sangat subjektif. Suatu tulisan falsafi merupakan suatu “kacamata” sangat pribadi untuk melihat dunia. Sperti halnya setiap pelukis mengungkapkan suatu cara melihat tertentu, demikian juga setiap filsuf memberikan suatu interpretasi pribadi tentang kenyataan. Sejarah filsafat kelihatannya seperti suatu museum yang memuat koleksi raksasa dari interpretasi-interpretasi mengenai dunia.
Interpretasi-interpretasi ini, cara-cara untuk melihat hidup dan dunia, tetap aktual. Disini terletak suatu perbedaan besar antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Sejarah suatu ilmu tertentu kurang penting bagi manusia dewasa ini. Karena pendapat –pendapat “ilmiah” dari dahulu lau menjadi “pra-ilmiah” atau “kekeliruan” setelah mencapai suatu tahap yang lebih dewasa.  Setiap langkah dalam perkembangan suatu ilmu berarti bahwa langkah yang lebih awal kehilangan aktualisasinya. Lain halnya dalam filsafat. Pendapat-pendapat masa kini tentang “pertanyaan-pertanyaan terakhir”, pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan, tidak lebih baik atau lebih benar daripada pendapat-pendapat dari ratusan atau ribuan tahun yang lalu. Pertanyaan-pertanyaan falsafi semua orang dari segala jaman dan semua sudut dunia kelihatannya sama tua dan sama panadai atau bodoh.
Berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan terakhir, sejarah filsafat menjadi relevan bagi kita. Karena yang dikatakatan oleh pemikir –pemikir besar sejarah tidak terikat pada suatu jaman tertentu. Yang dikatakan dalam Upanisad, dalam tulisan-tulisan Konfusius, Plato atau Aristoteles, masih tetap menolong untuk menentukan sikap kita. Di tengah segala interpretasi yang dikemukakan mengenai dunia dan manusia, dan di tengah semua abstraksi ilmu-ilmu yang makin terspesialisasikan, dibutuhkan suatu refleksi yang memperhatikan keseluruhan, yang menekankan kebebasan akal budi dan keterbukaan. Refleksi ini mencoba untuk menempatkan pemikiran-pemikiran kita dalam perspektif yang betul. Wallahu a’lam  

Rabu, 06 April 2011

Antara Syahwat & Surga

Junjunglah tinggi
Di atas kepedihan dan kesedihanmu
Terhadap apa yang dialami umat saat ini
Di atas ambisi keduniaanmu,
Mimpi-mimpi pekerjaanmu, dan
Kepentingan-kepentingan keluargamu
Di atas syahwat, keinginan, dan
Kepentingan-kepentingan dunia
Di atas kepentingan terkuat dan kehendak tertinggi
Perkenalkanlah hatimu pada keindahan nikmat surga
Lalu, ketuklah penuh harap dan rindu
Dengan membawa harga, jiwa dan hartamu
Marilah.....
Masuklah......!!!!!!

Fajar Telah Menyingsing


Anak manusia menunggu fajar
Di malam kelam yang menembus halimun
Sinarnya mengkilat bercahaya
Keceriaannya telah mencapai bintang
Besok, banyak yang akan berjalan di atas petunjuknya
Dan cahaya Allah akan diikuti para penumpang.