Jumat, 01 April 2011

KRITIK PEMIKIRAN DALAM ALIRAN FILSAFAT MODERN

Judul Buku : Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika
Penulis        : Prof. Dr. Juhaya S. Praja
Penerbit      : Kencana
Tahun Terbit: 2003
Tebal Buku : 210 halaman

Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yang mempunyai arti epstemi (pengetahuan) dan logy (teori) atau sering kita kenal dengan istilah teori pengetahuan. Epistemologi dapat dijelaskan sebagai cabang filsafat yang membahas ruang lingkup dan batas-batas pengetahuan. Pembahasan epistemologi ini mencari jalan untuk memecahkan pertenyaan-pertanyaan mendasar yang meliputi pengkajian sumber-sumber watak, dan kebenaran pengetahuan, yaitu apakah yang dapat di ketahui oleh manusia? Dari  manakh kita memperoleh ilmu pengetahuan? Apakah kita memiliki pengetahuan yang yang dapat diandalkan atau kita harus puas hanya dengan pendapat-pendapat atau sangkaan-sangkaan? Apakah kemampuan kita terbatas dalam mengetahui fakta pengalaman indera, atau kita ini dapat mengetahui yang lebih daripada apa yang diungkapkan oleh indera?
Dalam tradisi filsafat, kebanyakan mereka yang telah mengemukakan jawaban terhadapa persoalan-persoalan tersebut dapat di kelompokkan dalam salah satu dari dua aliran yaitu: rasionalisme dan empirisme. Akan tetapi sejalan dengan perkembangan dengan pemikiran filsafat, kedua aliran inipun telah mendapat kritik tajam dari aliran yang kemudian di kenal dengan kritisisme. Seolah-olah pemikiran itu menunjukkan dirinya secara nyata dalam alam pemikiran filsafat. Tampak jelas dalam proses perjalanan pemikiran rasionalisme ke empirisme dan kritisisme yang pada akhirnya telah melahirkan apa yang kemudian di kenal dan mewarnai pemikiran dunia hingga dewasa ini. Itulah yang kita kenal dengan metode ilmiah atau scientific method.
Kelompok rasionalis berpendapat bahwa akal manusia dapat mengungkapkan prinsip-prinsip pokok dari alam tanpa bantahan dari yang lain. Sedangkan kelompok empiris juga punya pendirian sendiri bahwa semua pengetahuan pada dasarnya datang dari pengalaman indera, dan karena itu pengetahuan kita terbatas pada hal-hal yang dapat di inderakan. Kritisisme juga berhasil membuat sintesa dari kedua aliran tersebut yang kemudian melahirkan metode ilmiah.
Memang jelas terdapat hubungan yang lazim antara metafisik dan epistemologi. Konsepsi kita tentang realitas tergantung pada paham kita tentang apa yang dapat kita ketahui . sebaliknya, teori pengetahuan kita bergantung pada pemahaman terhadap diri kita dalam hubungannya dengan seluruh realitas yang ada.
Rasionalisme (Rene Descartes 1595-1650)
Rasionalisme adalah aliran filsafat yang dipopulerkan oleh Rene Descartes atau sering juga di sebut sebagai bapak filsafat pada abad modern. Aliran ini di sebut rasionalisme karena sangat mementingkan rasio sebagai instrumen mencari kebanaran. Dalam rasio terdapat ide-ide dan dengan itu orang dapat membangun suatu ilmu pengetahuan tanpa menghiraukan realitas di luar rasio.
Ada perbedaan mendasar antara filsafat abad pertengahan denga abad modern. Perbedaan itu bukanlah dilihat dari segi maju dan mundur pada dunia ilmu pengetahuan melainkan lebih sering dilihat dari sudut ciri khasnya masing-masing. Filsafat abad pertengahan bercirikan pemaduan atau sinkretasi antara akal dan wahyu, antara rasio dan agama, dengan kecenderungan untuk mencari pembenaran-pembenaran terhadap wahyu dan eksistensi Tuhan melalui argumen-argumen filosofis. Adapun ciri filsafat modern adalah perhatian yang antusias terhadap hal-hal yang bersifat konkret, seperti alam semesta, manusia, hidup bermasyarakat dan sejarah.
Adapun metode yang digunakan dalam aliran rasionalisme adalah menyangsikan segala-galanya atau keragu-raguan. Ia bermaksud bahwa kesangsian atau keragu-raguan ini harus meliputi seluruh pengaetahuan, termasuk juga kebenaran-kebanaran yang sampai kini di anggap pasti. Misalnya, ada suatu dunia material, bahwa saya mempunyai tubuh, dan allah  ada. Menurut Descartes kalau ada suatu kebenaran yang tahan dalam kesangsian yang radikal itu, maka itulah kebenaran yang sama sekali pasti dan harus dijadikan dasar bagi seluruh ilmu pengetahuan. Ungakapan Descartes yang sangat terkenal adalah cogito ergo sum ( aku berfikir maka aku ada). Dalam filsafat modern cogito sering kali digunakan dalam arti kesadaran. Cogiti ergo sum itulah menurut Descartes suatu kebenaran yang tidak dapat disangkal, betapa pun besar usaha kita.
Bagaimana memperoleh pengetahuan yang sahih dari metode yang canangkan dapat dijumpai dalam bagian kedua karyanya, Anaximenes Discourse on Method yang menjelaskan perlunya memperhatikan empat hal berikut ini: (1) tidak menerima sesuatu pun sebagai kebenaran kecuali bila saya melihat bahwa hal itu sungguh-sungguh jelas dan tegas (clearly and distinctly), sehingga tidak ada suatu keraguan apapun yang mampu merobahkannya. (2) Pecahkanlah setiap kesulitan atau masalah atau sebanyak mungkin bagian, shingga tidak ada suatu keraguan apapun yang mampu merobohkannya. (3) Bimbinglah pikiran dengan teratur, dengan memulai dari hal yang sederhana dan mudah diketahui, kemudian secara bertahap sampai pada yang paling sulit dan kompleks. (4) Dalam proses pencarian dan pemeriksaan hal-hal sulit, selamanya harus dibuat perhitungan-perhitungan yang sempurna serta pertimbangan-pertimbangan yang menyeluruh, sehingga kita menjadi yakin bahwa tidak ada satu pun yang mengabaikan atau ketinggalan dalam penjelajahan itu.
Atas dasar aturan-aturan itulah Descartes mengembangkan pikiran filosofinya. Pertama-tama ia mulai meragukan hal-hal yang berkaitan dengan panca indera. Seperti yang dikatakan Descartes bahwa saya dapat meragukan, bahwa saya sedang disini, di dekat perapian, dalam pakaian lengkap karena kadang-kadang saya bermimpi dalam keadaan demikian, padahal waktu itu saya sedang tergeletak ditempat tidur dengan telanjang bulat. Selanjutnya, jika seorang gila kadangkala berhalusinasi, maka siapakah yang menjamin bahwa keadaanku sekarang ini tidak seperti keadaan orang gila tadi?
Sejenak kita mengingat filsuf Islam, al-Ghazali, yang pernah mengalami keragu-raguan (al-shakk) jauh sebelum munculnya Descartes. Bila perjalanan pemikiran filsafati Descartes berujung pada kelahiran rasionalisme yang cenderung mengabaikan Tuhan dan agama, maka perjalanan pemikiran filsafati al-Ghazali sama sekali berbeda dengan Descartes. Al-Ghazali sampai pada keyakinan yang kuat akan adanya Tuhan dengan melalui jalan tasawuf yang berpuncak pada ma’rifat, yakni pengetahuan intuitif.
Cogito ergo sum inilah yang dianggap sebagai fase yang paling penting dalam filsafat Descartes yang di sebut sebagai kebenaran filsafat yang pertama (primium philosophium). Aku sebagai sesuatu yang berpikir adalah suatu substansi yang seluruh tabiat dan hakikatnya terdiri dari pikiran, dan untuk berada tidak memerlukan suatu tempat atau sesuatu yang bersifat bendawi. Prinsip bahwa kebenaran yang pasti adalah yang jelas dan terpilah-pilah, menurut B. Williams, merupakan problem sentral dan sekaligus inti filsafat Descartes.
Empirisme
Empirisme berasal dari kata Yunani emperia yang berarti pengalaman inderawi. Oleh karena itu, empirisme dinisbatkan kepada paham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan yang dimaksudkan dengannya ialah baik pengalaman lahiriyah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniyah yang menyangkut pengalaman pribadi manusia saja. Oleh karena itu pula empirisme sangat bertentangan dengan rasionalisme. Para pemikir di Inggris bergerak ke arah yang berbeda dengan tema yang di rintis oleh Descartes. mereka lebih mengikuti jejak Francis Bacon, yaitu aliran empirisme. Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri mengecilkan peran akal. Sebagai suatu doktrin empirisme adalah lawan dari rasionalisme. Akan tetapi tidak berarti bahwa rasionalisme di tolak sama sekali. Dapat dikatakan bahwa rasionalisme kadang dipergunakan dalam kerangka empirisme, begitu juga sebaliknya.
Tokoh-tokoh yang dikenal adalah Thomas Hobbes, John Locke, Goerge berkeley, dan David Hume.
Thomes Hobbes (1588-1679) adalah salah satu penganut aliran empirisme yang beranggapan bahwa pengalaman merupakan permulaan segala pengenalan. Pengenalan intelektual tidak lain dari pada semacam perhitungan, yaitu penggabungan data-data inderawi yang sama dengan cara berlainan. Tentang dunia dan manusia, ia dapat dikatakan sebagai penganut materialisme. Karena itu ajaran Hobbes merupakan ajaran materialistis dalam sejarah modern. Berbeda dengan francis Bacon yang meletakkan eksperimen-eksperimen sebagai metode penelitian, Hobbes memandangnya sebagai doktirn. Hobbes juga tidak menyetujui pandangan Descartes tentang jiwa sebagai substansi ruhani. Menurut Hobbes, seluruh dunia, termasuk juga manusia merupakan suatu proses yang berlangsung dengan tiada heti-hentinya atas dasar hukum-hukum mekanisme saja.
John Locke (1632-1704) termasuk orang yang mengagumi Descartes, tetatpi ia menyetujui ajarannya. Bagi Locke, mula-mula rasio manusia harus di anggap sebagai “lembaran kertas putih” atau dalam bahasa Yunani dikenal dengan istilah “tabula rasa” yang seluruh isinya berasal dari pengalaman. Bagi Locke, pengalaman ada dua: pengalaman lahiriyah (sensation) dan pengalaman batiniyah (reflection). Kedua sumber pengalaman ini menghasilkan ide-ide tunggal (sample ideas). Ruh manusia bersifat sama sekali pasif dalam menerima ide-ide tersebut. Namun demikian, ruh mempunyai aktivitas juga, karena dengan menggunakan ide-ide tunggal sebagai batu bangunan ruh manusia dapat membentuk ide majemuk (complex ideas), misalnya idea substansi. Locke kemudian menyatakan bahwa dalam dunia luar memang ada substansi, tetapi tidak hanya mengenal ciri-cirinya saja.
Goerge Berkeley (1665-1753) yang lahir di Irlandia ini menjadi Uscup Anglikan di Cloyne (Irlandia). Sebagai penganut empirisme, Berkeley mencanangkan teori yang dinamakan immaterialisme atas dasar prinsip-prinsip empirisme. Jika Locke masih menerima substansi-substansi di luar kita, maka Berkeley berpendapat bahwa sama sekali tidak ada substansi-substansi material yang ada hanyalah pengalaman dalam ruh saja. Esse estpercipi (being is being perceived), yang artinya, dalam dunia material sama saja dengan ide-ide yang saya alami. Menurut Berkeley, ide-ide membuat saya melihat suatu dunia material. Dan bagaimana dengan saya sendiri? Berkeley mengakui bahwa aku merupakan suatu substansi ruhani. Ia juga mengakui adanya Allah, sebab Allah-lah yang merupakan asal-usul ide-ide yang saya lihat. Jika mengatakan bahwa Allah menciptakan dunia, yang kita maksud adalah bukan berarti ada suatu dunia di luar kita, melainkan bahwa allah memberi petunjuk atau mempertunjukkan ide-ide kepada kita.
David Hume (1711-1776), menurut para penulis sejarah filsafat, empirisme berpuncak pada David Hume ini, sebab ini menggunakan prinsip-prinsip empiristis denagn cara yang paling radikal. Terutama pengertian substansi dan kausalitas (hubungan sebab-akibat) menjadi objek kritiknya. Ia tidak menerima substansi, sebab yang dialami ialah kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu terdapat bersama-sama 9misalnya, putih, licin, erat, dan sebagainya). Tetapi, atas dasar pengalaman tidak dapat disimpulkan bahwa dibelakang ciri-ciri itu masih ada suatu substansi tetap. Sebagai seorang empiris, Hume nampak lebih konsekuen dari pada Barkeley.
Kritisisme, filsafat yang dikenal dengan kritisime adalah filsafat yang diintrodusir oleh Immanuel Kant. Filsafat ini memulai pelajarannya dengan menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Oleh karena itu, kritisisme sangat berbeda dengan corak filsafat modern sebelumnya yang mempercayai rasio secara mutlak. Isi utama dari kritisime adalah gagasan Immanuel Kant tentang teori pengetahuan, etika, dan estetika. Gagagsan ini muncul karena adanya pertanyaan-pertanyaan mendasar yang timbul pada Immanuel Kant. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah sebagai berikut:
  1. 1.      Apa yang dapat saya ketahui?
  1. 2.   Apa yang saya lakukan?
  1. 3. Apa yang boleh saya harapkan?
Ciri-ciri kritisisme dapat disimpulkan dalan tiga hal:
Ø     Menganggap bahwa objek pengenalan itu berpusat pada subjek bukan pada objek. 
b)      Menegaskan keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk mengetahui realitas atau hakikat sesuatu; rasio hanyalah mampu menjangkau gejalanya atau fenomenanya saja.
c)  Menjelaskan bahwa pengenalan manusia atas sesuatu itu di peroleh atas perpaduan antara peranan unsur Anaximenes a priori yang berasal dari rasio serta berupa ruang dan waktu dan peranan unsur aposteriori yang berasal dari pengalaman yang berupa materi.
Melalui filsafatnya Kant bermaksud memugar sifat objektivitas dunia ilmu pengetahuan. Agar supaya maksud itu terlaksana, orang harus menghindarkan diri dari sifat sepihak rasionalisme dan sifat sepihak empirisme. Rasionalisme mengira telah menemukan kunci bagi pembukaan realitas pada diri subjeknya, lepas dari pengalaman. Adapun empirisme mengira telah memperoleh pengetahuan dari pengalaman saja. Ternyata bahwa empirisme sekalipun dimulai dengan ajaran yang murni tentang pengalaman, tetap melalui idealisme subjektif bermuara pada suatu skpetisisme yang radikal. Nah, Kant bermaksud mengadakan penelitian yang kritis pada rasio murni. Menurut Hume, ada jurang yang lebar antara kebenaran-kebenaran rasio murni dengan realitas dalam dirinya sendiri. Menurut Kant, syarat dasar bagi segala ilmu pengetahuan adalah;
a.        Bersifat umum dan mutlak, dan
b.      Memberi pengetahuan yang baru.
Kritisisme kant dapat dianggap suatu usaha raksasa untuk mendamaikan rasionalisme dengan empirisme. Rasionalisme mementingkan unsur a priori dalam pengenalan, berarti unsur-unsur yang terlepas dari segala pengalaman (seperti misalnya “ide-ide bawaan” ala Descartes). Empirisme menekankan unsur-unsur aposteriori, berarti unsur-unsur yang berasal dari pengalaman (seperti Locke yang menganggap rasio sebagai “lembaran putih” as a white paper). Menurut Kant, baik rasionalisme maupun empirisme kedua-duanya berat sebelah. Ia berusaha menjelaskan bahwa pengalaman manusia merupakan paduan antara sintesa unsur-unsur apriori dengan unsur-unsur aposteriori.
Menurut kant, unsur apriori itu sudah ada pada indera. Ia berpendapat bahwa pengetahuan inderawi selalu ada dua bentuk apriori, yaitu ruang dan waktu. Jadi, ruang tidak merupakan ruang kosong, dimana benda-benda diletakan; ruang tidak merupakan ruang dalam dirinya (ruang an sincli). Dan waktu bukan merupakan suatu arus tetap, dimana penginderaan-penginderaan bisa diciptakan. Keduanya merupakan bentuk apriori sensibilitas. Atau dengan kata lain, kedua-duanya berakar dalam struktur subjek sendiri.    
   


         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar