Sabtu, 19 Maret 2011

Puisi Untuk Kekasih


Kau terlihat seperti  mawar merah
Mekar, menghiasi taman-taman kota
Yang menggoda hasrat sejati di kalbu
Cintaku mengalahkan putihnya embun
Sayangku bak bara api yang tak bisa berpisah
Hatiku telah kau rasuki sampai ke akar tunggal
Dan kau tumbuh bersemayam di dalam
Kau adalah cahayaku, kau adalah pelita dalam kegelapanku
Kau akan terus bersinar menerangi jiwaku
Wahai tambatan kalbu.


Cintaku Jauh Di Pulau

Cintaku jauh di pulau
Gadis manis sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar
Di leher kukalungkan oleh-oleh buat si pacar
Angin membantu, laut terang, tapi terasa
Aku tidakkan sampai padanya

Di air yang tenang, di angin mendayu
Di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata
“Tunjukkan perahu ke pangkuanku saja”.

Amboi....!! jalan sudah bertahun ku tempuh
Perahu yang bernama ‘kan merapuh !!!!
Mengapa ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku ?

Manisku jauh di pulau,
Kalau ku mati dia iseng sendiri.

                        (Chairil Anwar)

Nyanyian Seorang Petani Muda



Aku sedang duduk di pematang
Memandang jauh hari depan mengambang di awan
Aku sekarang termenung di rumputan
Menatap hijau padang, burung an ilalang

Hari sudah tinggi dalam tikaman terik matahari
Hari telah larut dalam kerja sehari-hari
Anak-anak gembala menyanyikan lagu derita desanya
Lembu dan kerbau bekerja dan makan seenaknya

Aku sekarang disini menanti kiriman makan siang
Dari pacarku yang sederhana, pelan berlenggang di pematang
Aku sekarang terlena disini menanti hujan tercurah
Dari langit Tuhan yang katanya pemurah

Haripun kian larut buat bersenda dan berpacaran
Hari sudah terlambat buat mengeluhkan nasib tanaman
Terlalu letih aku memikirkan kemakmuran
Sedang tanaman disawah ladang belum kunjung bermatangan

Aku sekarang disini berpikir tentang perkawinan
Dan bila kawin nanti bulan depan
Aku khawtirkan nasib ternakku sayang
Sebab pastilah ia dijual buat ongkos peralatan

Hari makin senja, senja makin malam
Burung-burung pulang ke sarang
Gembala menggiring ternak ke kandang
Beriringan mereka pulang
Beriringan keluh warga desa, harga tak kerja seimbang

Aku sekarang disini berbicara dengan alam
Yang sabar dan ramah dibelai angin lembah yang rawan
Tak ku tahu adakah ia pun tahu
Tetesan keringat dan nasib tersia kerabat desaku.

                        (Budiman S. Hartojo)

Jumat, 18 Maret 2011

Kupu-kupu dalam Kejahatan


Hanya kupu-kupu kecil dan ulat berbulu
Yang tahu akan kekejaman, kejahatan, kekecewaan dan ketidakadilan.
Bagaimana mangatakan pada dunianya sendiri
Sedangkan lipatan tikar dan lilin tidak punya arti apa-apa di kegersangan rasa
Lilin menjadi perbandingan, kecewa jadi jawaban dan takut jadi selimut
Engkau tak lagi mengerti dengan bahasamu sendiri
Bahasa orang dan bahasa kupu-kupu kecil serta ulat berbulu
Engkau tertipu dengan indahnya kupu-kupu, karang dan mutiara
Serta ulat menakutkan
Enkau hanya sosok semut kecil lemah dan tak berdaya.

Jumat, 04 Maret 2011

Sejadah Kelabu

Malam tak pernah tahu akan keberadaanku
Siksa terus ku rasakan, delima selalu merajut arti setiap saat
Ku tak bisa mencari kebenaran sendiri
Ku terlalu pecundang dengan diriku
Akan tetapi nurani tak pernah ku bohongi
Malam menuju perjalanan pulang
Sementara ku tersungkur di atas lamunan sejadah kelabu
Selamat tinggal malamku, selamat bertempur dengan keabadian.

Rabu, 02 Maret 2011

Pertarungan Hidup

Kegembiraan tampak di raut  muka tua itu
Ketika seorang menyapa dan tersenyum padanya
Panas bukan penghalang baginya
Keramaian membuat dirinya terasingkan
Matanya menatap setiap sudut kehidupan
Disudut gedung besar wajah tua itu dikejutkan oleh seorang anak kecil
Air matanya menetes tak terasa
Batinnya menangis, hatinya berteriak dan dirangkullah anak itu
Sembari berkata “tak ada perhatian, tak ada keadilan untuk kita”.

Penyesalan

Rasa sesal menerpa nurani batin
Air mata mengalir, hati menangis disudut kamar
Semuanya telah terjadi dan siksa menimpa diri
Aku malu dengan sinar matahari yang begitu cerah
Aku malu dengan hembusan angin
Karena aku hanyalah sampah kotor  menjijikkan.

Sang Kekasih

Nada itu menari-nari di telinga dan mengingatkanku pada Kekasihku
Siang terlelap di bukit tinggi cahaya indah menghapusnya
Desiran angin, awan kelabu, dan mega tersenyum pada Sang Kekasih
Menunjukkan rasa cinta tak tergantikan
Dia berjalan sangat bak ombak mencium pantai dan terlena di dalamnya
Seakan siang takkan pernah kembali menyapa.

Selasa, 01 Maret 2011

Sang Rasa

Rasa ngantuk menghalangi duka batin
Ceritapun ada saat kita termenung dalam gumangan nada
Bukti-bukti anggun terlempar keluar laksana salju bertaburan di dermaga.

Bocah Kecil

Rasa lelah, capek, haus dan lapar semuanya dirasa
Semangat dan gairah hidup seakan tak berpihak  kepada bocah kecil itu
Tak seorangpun peduli dengan dirinya yang kumuh
Kurus, wajahnya yang berseri memudar karena rasa lapar
Perutnya dipegang dan menangis kesakitan
Seseorang  dengan membawa sesuatu di tangannya datang dari bilik pintu tua itu
Keadaannya sedikit lebih baik.
Tapi, wajahnya tampak lelah dan lesu
Tangan tua itu mengusap keringat yang mengalir di wajahnya
Bak menghilangkan lelah dan lesu yang dideritanya
Bocah itu berteriak karena rasa lapar
Bocah itu  menangis kesakitan
Sedangkan harapan  terus menghampirnya.