Aku sedang duduk di pematang
Memandang jauh hari depan mengambang di awan
Aku sekarang termenung di rumputan
Menatap hijau padang, burung an ilalang
Hari sudah tinggi dalam tikaman terik matahari
Hari telah larut dalam kerja sehari-hari
Anak-anak gembala menyanyikan lagu derita desanya
Lembu dan kerbau bekerja dan makan seenaknya
Aku sekarang disini menanti kiriman makan siang
Dari pacarku yang sederhana, pelan berlenggang di pematang
Aku sekarang terlena disini menanti hujan tercurah
Dari langit Tuhan yang katanya pemurah
Haripun kian larut buat bersenda dan berpacaran
Hari sudah terlambat buat mengeluhkan nasib tanaman
Terlalu letih aku memikirkan kemakmuran
Sedang tanaman disawah ladang belum kunjung bermatangan
Aku sekarang disini berpikir tentang perkawinan
Dan bila kawin nanti bulan depan
Aku khawtirkan nasib ternakku sayang
Sebab pastilah ia dijual buat ongkos peralatan
Hari makin senja, senja makin malam
Burung-burung pulang ke sarang
Gembala menggiring ternak ke kandang
Beriringan mereka pulang
Beriringan keluh warga desa, harga tak kerja seimbang
Aku sekarang disini berbicara dengan alam
Yang sabar dan ramah dibelai angin lembah yang rawan
Tak ku tahu adakah ia pun tahu
Tetesan keringat dan nasib tersia kerabat desaku.
(Budiman S. Hartojo)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar